WARNA BARU DILEMBARAN JULI 2026

Karya Maliqa Azahra (Kelas VII-A)

Hari itu, Senin pertama di bulan Juli. Aroma angin pagi yang khas menyambut langkah kakiku menapaki gerbang Madrasah Tsanawiyah Negeri 28 Jakarta. Langkahku pelan, setengah ragu, membawa serta debar jantung yang tak karuan.

Menjadi siswi MTs membuatku mendadak merasa begitu kecil. Di tengah halaman yang luas dan deretan gedung kelas yang dipenuhi suara gelak tawa asing, aku merasa seperti sehelai daun yang terlepas dari rantingnya, belum tahu ke mana angin akan membawa.

“Eh, dek, atributnya jangan lupa dipasang dulu sebelum masuk barisan!”

Suara bernada tegas itu mengagetkanku. Seorang kakak kelas berkalung name tag organisasi siswa berdiri di depanku dengan alis sedikit terangkat. Namun, sebelum rasa cemasku bertambah, sudut bibir kakak berkerudung rapi itu melunak, membentuk senyuman yang menenangkan. “Sini, Kakak bantu rapikan dulu kerudungnya.”

“Baik, Kak. Terima kasih,” ucapku pelan, diiringi senyum canggung. Ada kehangatan kecil yang merayap di dadaku.

Di lapangan utama, aku berdiri berdampingan dengan puluhan wajah baru yang bernasib sama, tersesat dalam kebingungan dan kecanggungan di hari pertama sekolah. Tak lama kemudian, seorang guru laki-laki dengan setelan busana batik hijau  dan celana hitam berjalan mendekati barisan kami dengan senyuman yang teramat teduh. Beliau adalah Bapak Ainur Rofik, wali kelas kami yang menyapa dengan suara lembut, Tatapan matanya beralih dari satu wajah ke wajah yang lain, seolah ingin memeluk dan meredakan kegugupan yang sedang kami rasakan.

“Selamat datang di lingkungan madrasah tercinta ini. Langkah awal kalian di sini bukan hanya tentang menuntut ilmu umum, tetapi juga merawat dan memperindah akhlak,” ucap Pak Ainur Rofik.

Penggalan pesan itu terekam jelas dalam kepalaku. Kalimat tersebut bukan sekadar sambutan, melainkan sebuah kompas penuntun, bahwa sekolah ini bukan sekadar tempat mengejar angka, melainkan tempat menumbuhkan asa.

Sesi pengenalan kelas pun dimulai dalam keheningan yang kaku. Aku menunduk, merapikan lipatan jilbabku, merasa canggung karena belum ada satu pun wajah akrab yang bisa diajak berbagi rasa.

“Hai, boleh duduk di sini?”

Aku mendongak. Seorang siswi berwajah ceria dengan tas punggung penuh gantungan kunci boneka berdiri di sebelah bangkuku, memancarkan binar energi cerah yang menular.

“Boleh banget,” jawabku cepat

Namanya Tisha. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, dinding-dinding kecanggungan runtuh begitu saja. Kami bertukar cerita tentang sekolah asal, membahas jadwal pelajaran baru yang tampak padat, hingga berbisik-bisik mengenai guru mata pelajaran yang terkenal disiplin dan galak. Kehadiran Tisha mengubah segalanya, ruang kelas yang tadinya tampak asing mendadak terasa hangat dan penuh canda.

Menjelang dzuhur, ketika bel istirahat kedua berbunyi. menandakan waktu sholat berjamaah tiba, kami berjalan beriringan menuju mushola sekolah. Setelah berwudhu kami merapikan mukena, berdiri berdampingan dalam shaf yang lurus, dan meresapi kedamaian yang mengalir dalam dekap kebersamaan yang baru saja terukir.

Waktu terus berjalan, bel pulang berbunyi mendekati sore, aku merapikan buku-buku ke dalam tas ranselku. Rasa penat bercampur dengan kelegaan yang luar biasa menyebar didada.

Sambil mengunyah jajanan, aku dan Tisha berjalan keluar gerbang MTs. Aku sempat menengok ke belakang sekali lagi, memandangi plang nama sekolah yang berdiri kukuh menantang langit Juli.Aku mulai mengerti, ketakutan di pagi hari tadi hanyalah bentuk lain dari takjub. Menjadi siswi baru MTs ternyata bukan sekadar tentang adaptasi yang melelahkan, melainkan tentang mulai mengisi lembaran-lembaran sunyi dengan warna baru, persahabatan yang tulus, dan keyakinan bahwa di balik gerbang ini, perjalanan terbaik dalam hidupku baru saja resmi dimulai. (Tamat)