“Langkah Pertama Di Koridor”

Karya: Anisah Karis Hannani (Kelas VII-A)

Bel pertama berbunyi. Nyaring. Panjang.

Aku berdiri kaku di depan gerbang MTSN 28. Tas di punggung rasanya dua kali lebih berat dari biasanya. Bukan karena isinya buku, tapi karena isinya gugup.

” Dunia baru, cerita baru,” kata Mama pagi tadi sambil merapikan kerah bajuku. Aku cuma mengangguk. Di dalam kepala aku malah mikir: gimana kalau aku nyasar? Gimana kalau nggak punya teman? Gimana kalau dipanggil maju ke depan dan aku lupa namaku sendiri?

Namaku Karis . 12 tahun. Hari ini hari pertama masuk Kelas VII.

Hari Pertama

Koridor sekolah ini panjang sekali. Lantainya mengilap kena pantulan matahari pagi. Di kiri kanan, anak-anak baru seperti aku jalan dengan wajah setengah bingung, setengah sok berani. Ada yang ditemani orang tua sampai depan kelas. Ada juga yang jalan sendiri sambil melirik papan nama kelas.

Aku kelas VII-A. Katanya di lantai 1, Paling awal

Lurus terus, sampai bertemu koridor,” bisikku pada diri sendiri.

Tapi setelah belok kanan, aku ketemu 2 koridor lagi yang bentuknya mirip semua. Aku berhenti. Menelan ludah. Dari belakang ada yang nyenggol pelan.

“Eh, maaf,” kataku cepat tanpa nengok.

Gak apa-apa. Kamu juga nyari VII-A ya?”

Suara cewek. Aku nengok. Memakai kerudung bergo putih polos, membawa map warna biru, dan di tangannya ada selembar denah sekolah yang kelihatan udah lecek karena dibuka-tutup.

“Iya,” jawabku. “Kamu juga?”

Dia mengangguk. “Aku Afifah . Dari Min 21.” Dia nunjuk denahnya. “Katanya sih lewat sini sampai bertemu koridor.”

Akhirnya ada teman senasib. Aku lega. “Aku Karis. Dari Mi Rabi’ah Yuk bareng.”

Kami jalan bareng. Ternyata Afifah sama gugupnya denganku. Dia cerita kalau semalam nggak bisa tidur karena kepikiran seragam baru. Aku cerita kalau tadi pagi nyariin kaos kaki sampai ke bawah kolong tempat tidur. Kami ketawa kecil. Gugupnya berkurang sedikit.

Sampai di depan kelas VII-A, sudah ada 20 anak di dalam. Meja diatur melingkar untuk kegiatan MPLS. Kursi di pojok masih kosong dua.

Afifah langsung duduk. Aku duduk di sebelahnya. Bangku baru. Meja baru. Aroma cat tembok baru. Semua baru.

MPLS dan Rasa Canggung

Tiga hari MPLS rasanya seperti roller coaster. Hari pertama perkenalan, disuruh maju satu-satu. Jantungku copot waktu namaku dipanggil.

“Perkenalkan, nama saya Karis. Hobi saya… hobi saya menyanyi ,” ujarku cepat. 20 pasang mata menatap. Ada yang senyum, ada yang berbisik.

Afifah maju setelahku. Suaranya lebih jelas. “Aku Afifah. Hobiku baca buku. Mau teman gambar bareng boleh.”

Sejak itu ada 3 anak yang langsung ngajakin Afifah duduk bareng saat istirahat. Aku? Masih makan sendiri di pojok.

Hari kedua ada lomba yel-yel antar kelompok. Aku masuk kelompok 4 bersama Afifah, Dimas, Irfan, dan Rani . Kami dapat nama kelompok “Petir”. Masalahnya, tidak ada yang berani jadi ketua.

“Gimana kalau Karis aja?” tiba-tiba Afifah nunjuk aku.

“Eh? Aku?” Aku kaget.

Yang penting suaranya paling keras pas teriak ‘Petir’,” kata Dimas sambil ketawa.

Akhirnya aku maju juga. Kaku. Tapi anehnya, waktu kami latihan di lapangan dan kompak teriak “Petir! Petir! Petir!”, ada rasa hangat di dada. Kami kalah lomba. Tapi habis itu kami foto bareng. Foto pertama di sekolah baru.

Malamnya aku lihat foto itu lama. Lima orang asing 3 hari lalu, sekarang bisa ketawa bareng karena yel-yel aneh.

Kejadian di Koridor

Minggu kedua sekolah, masalah datang.

Pelajaran PJOK. Kami disuruh ambil bola di gudang alat olahraga. Gudangnya ada di ujung koridor lantai 1, agak gelap. Aku, Afifah, dan Irfan ditunjuk.

Pas mau balik, lampu koridor tiba-tiba mati. Mungkin korslet. Koridor jadi gelap gulita. Cuma ada cahaya dari jendela kecil.

“Gimana nih?” suara Irfan agak panik.

“Tenang,” kata Afifah. Tapi suaranya juga gemetar.

Aku memegang erat bola basket. “Pelan-pelan aja. Pegangan tembok.”

Kami jalan meraba. Tiba-tiba dari depan ada suara langkah kaki cepat. Terus ada yang lari dan kesenggol aku. Bola jatuh. Menggelinding.

“Astaga!” teriak seseorang.

Lampu nyala lagi. Ternyata yang nabrak itu Kak Jasmine , anak kelas VIII. Dia lagi buru-buru bawa berkas OSIS. Berkasnya berantakan di lantai.

“Maaf maaf maaf,” kata Kak Jasmine panik. “Aku dikejar Pak Guru.”

Kami bertiga langsung bantu pungutin. Pas udah selesai, Kak Jasmine menatap kami. “Makasih ya. Kalian kelas berapa?”

“VII-A,” jawab Afifah.

Kak Jasmine tersenyum. “Anak baru ya? Berani juga bantuin. Lain kali kalau ada apa-apa di sekolah, cari OSIS ya. Aku Jasmine.”

Setelah itu dia pergi buru-buru lagi.

Irfan menghela napas. “Gila deg-degan.”

Aku ketawa. “Tapi seru juga.”

Afifah menoleh ke aku. “Tadi kamu yang paling tenang, Ris.”

Pujian kecil itu bikin pipiku panas.

Pulang Bareng

Sejak kejadian gudang, kami bertiga jadi sering pulang bareng. Rute pulang Afifah dan aku searah, cuma beda gang. Irfan ikut sampai pertigaan.

Di perjalanan kami cerita banyak. Tentang guru yang galak, tentang kantin yang menunya itu-itu aja, tentang ekskul yang mau kami coba. Afifah mau ikut eskul Paskibra . Irfan mau pmr . Aku? Belum tahu.

“Ris, kamu ikut ekskul apa?” tanya Afifah  suatu sore.

“Aku… belum berani,” jawabku jujur. “Takut nggak punya teman.”

Afifah berhenti jalan. “Lah, kita kan temenmu.”

Irfan menimpali. “Iya. Besok ikut aku pmr aja. Yang penting mau coba.”

Hari Jumatnya aku ikut Irfan ke lapangan. Awalnya canggung. Tali  dilempar ke aku, aku malah salah nangkep. Tapi Irfan ngajarin. Afifah  datang bawa buku sketsa dan duduk di tribun, sambil sesekali melambaikan tangan.

Selesai latihan, badan pegal semua. Tapi rasanya… enak.

Sebulan Kemudian

Sebulan berlalu cepat. Papan pengumuman ditempel hasil pemilihan ketua kelas.

Nama yang terpampang: Anisah karis h.

Aku bengong di depan papan. “Kok aku?”

“Teriakan ‘Petir’ kamu paling keras,” kata Dimas dari belakang sambil menepuk bahuku.

Afifah  nyelip di samping. “Selamat, Bu Ketua.” Dia nyodorin aku permen. “Traktir.”

Hari itu aku masuk kelas lebih awal. Berdiri di depan pintu. Menatap koridor yang dulu terasa panjang dan menakutkan. Sekarang sudah beda. Di koridor itu aku pertama kali ketemu Afifah. Di koridor itu aku belajar kalau tersesat itu nggak apa-apa, asal ada yang mau jalan bareng. Di koridor itu aku pertama kali berani bantu orang.

Bel masuk berbunyi lagi. Anak-anak mulai masuk.

“Selamat pagi, teman-teman,” kataku waktu maju ke depan. Suaraku tidak setremor dulu.

“Selamat pagi, Bu Ketua,” jawab mereka kompak, sambil ketawa.

Aku ikut ketawa.

Ternyata “dunia baru” itu tidak semenyeramkan yang aku kira. Yang bikin menakutkan itu langkah pertamanya. Tapi begitu kamu berani melangkah, koridor sepanjang apa pun akan terasa lebih dekat. Apalagi kalau di sebelahmu ada orang yang mau jalan bareng.

Sore itu pulang sekolah, aku, Afifah, dan Irfan jalan seperti biasa.

“Nanti ikut gambar bareng aku ya,” ajak Afifah.

“Boleh. Tapi jangan gambar, gambar  aku jelek-jelek,” kataku.

Irfan tertawa. “Gambar kita bertiga aja. Kasih judul: Petir di Koridor.”

Aku mengangguk. Ide bagus.

Karena ternyata, cerita baru memang dimulai dari langkah pertama. (Tamat)